Cari Blog Ini

Kamis, 17 November 2011

Belajar Membaca Yang Baik untuk Anak

Metode belajar membaca sangat banyak kita jumpai. Banyak lembaga pendidikan anak yang menawarkan metode belajar membaca. Tentu saja metode belajar membaca yang mereka tawarkan mempunyai berbagai kelebihan.
Sebagai orang tua, tentunya ingin mendapatkan metode belajar membaca yang terbaik buat anak anak balita atau anak yang belum bisa membaca. Biaya untuk ikut dalam program belajar membaca bervariasi tergantung dari lembaga yang menyelenggarakan.
Akan tetapi karena satu dan lain hal, kita tidak memasukkan anak kita untuk mengikuti lembaga yang menyelenggarakan metode belajar membaca. Apakah metode belajar membaca bisa kita lakukan sendiri di rumah?
Menurut saya metode belajar membaca dapat kita lakukan sendiri di rumah. Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang tidak memasukkan anak saya ke lembaga penyelenggara metode belajar membaca. Metode yang saya terapkan pada anak saya adalah metode belajar sambil bermain. Berbagai sarana yang ada, mulai dari kertas, papan tulis, video belajar membaca, alat peraga belajar membaca kami pakai. Mengingat dunia anak anak adalah bermain, maka kami ajak anak bermain, akan tetapi tanpa disadari si anak, kami sisipkan pelajaran belajar membaca.
Kami juga mencoba membuat sendiri alat peraga belajar membaca. Salah satu contohnya adalah beberapa video yang ada di blog ini.
Kami yakin, semua metode belajar membaca baik, tinggal bagaimana kita secara konsisten menerapkannya. Mengingat dunia anak adalah dunia bermain, permainan kelihatannya adalah metode belajar membaca yang baku yang harus kita terapkan ke anak. Tanpa ada tuntutan kepada si anak, biarkan semua berjalan secara alami.

Salah Satu Proses Belajar Anak Adalah Bermaaaaiiiiiiinnnnn...

Bermain Adalah Belajar untuk Anak-Anak

Dalam banyak hal, hampir semua yang dikemas dalam bentuk permainan menarik perhatian anak. Tidak heran bagaimana anak bersemangat begitu menggebu-gebu saat diajak main atau saat memulai permainan, dan tidak jarang pula permainan digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada mereka. Lalu, apa saja informasi positif yang bisa disampaikan lewat permainan? Sebelum memulai permainan, anak dikenalkan kepada peraturan, atau ground rules. Di sini anak bisa mengenal sifat disiplin karena pada umumnya anak-anak berpikir bahwa permainan menjadi menyenangkan seiring dengan dipatuhinya peraturan. Tidak hanya disiplin, tetapi kreativitas anak juga dirangsang melakukan hal-hal yang bisa memperbesar kemungkinannya untuk menang dengan tetap mematuhi aturan.
Orang Tua dan Anak Bermain Bersama
Orang Tua dan Anak Bermain Bersama
Dalam permainan, ada beberapa hal yang harus diingat: peraturan permainan, gerakan lawan, hingga alur permainan yang dilakukan berulang kali. Anak belajar untuk mengingat, mengulang, dan mengaplikasikannya langsung dalam sebuah permainan. Repetisi yang disertai aplikasi langsung adalah satu cara efektif untuk melatih daya ingat dan analisis.
Di akhir permainan, pasti ada yang kalah dan menang. Melalui kemenangan, rasa percaya diri anak bisa ditumbuhkan, sedangkan melalui kekalahan dorongan menjadi lebih baik bisa muncul. Namun, kadang kekalahan bisa mengurangi rasa percaya diri anak. Di sinilah orang tua atau pembimbing berperan untuk mengarahkan emosi negatif anak saat mengalami kekalahan. Anak bisa belajar untuk menerima kekalahan, menjadi sportif, dan menginstropeksi kesalahannya agar tidak terulang saat bermain kembali.
Bermain bahkan menawarkan kepada orang tua sebuah media untuk lebih mengenal anaknya karena dalam bermain, apa yang anak rasakan dapat berhubungan langsung dengan pengalaman emosionalnya. Perasaan sedih, senang, puas, dan kecewa bisa dipantau langsung oleh orang tua.
Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa sebenarnya bermain juga adalah belajar untuk anak. Tapi sekarang terkadang bermain dianggap sebagai hal yang berlawanan dari belajar. Menurut kalian, apa yang menyebabkan hal itu? Yuk, berbagi! :)

Belajar dan Bermain itu gimana siiihhh..????

Belajar sambil bermain
Ingatkah kita bagaimana perasaan kita waktu kecil ketika bermain? Betapa bergairahnya waktu kita menemukan sesuatu. Bersemangat untuk belajar mengenali bentuk, warna, suara sambil bermain. Begitulah bermain bagi anak dapat membuka pintu pembelajaran. Dan pembelajaran lewat permainan itu tidak perlu rumit. Bisa saja dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Untuk itu luangkan waktu sejenak misalnya setiap akhir minggu dengan bermain bersama anak. Ajarkan anak-anak untuk menyentuh beragam obyek di sekitarnya; misalnya merasakan teksturnya; air, plester semen, kayu, plastik, kaca, kertas, kain, kulit, rambut.
Atau mendengarkan suara; tawa, percakapan, musik, lalu lintas, pesawat di angkasa, dan kicauan burung. Dan jangan lupa ajarkan juga bebauan. Seperti menghirup aroma masakan berbumbu, mengendus setangkai bunga, menghirup aroma rumput yang baru dipotong, tanah yang habis disiram hujan. Dari situ anak secara langsung akan belajar tentang alam bahkan spiritual yang mendasar dan sederhana. Anak akan sangat senang dengan setiap penemuan dan dari situ ia akan bisa menyerap pengetahuan secara langsung.Waktu bermain adalah satu area yang paling memberikan rasa senang, relaksasi, hiburan dan merupakan sosialisasi pendidikan untuk semua orang. Selama bermain, kita juga bisa membantu si kecil membayangkan dunia baru secara keseluruhan. Sepanjang hidupnya, segala aktivitas seperti itu akan merangsang kreativitasnya, selera humornya, rasa keseimbangan dan proporsinya, rasa ingin tahunya, logikanya, perkembangan sosialnya dan masih banyak lagi. Yuk.. sediakan waktu tiap akhir minggu untuk bermain dengan anak-anak kita????

Agar Si Kecil Betah Belajar...

Agar Si Kecil Betah Belajar
Ruang kamar anak dengan aksen warna kuat yaitu merah, kuning dan hijau dalam ruang dengan warna dominan natural (Foto: Ahmad Fadilah)
Jika ruang belajar nyaman, anak tentunya akan betah belajar. Jadi, apa saja yang patut diperhatikan sebelum membuat kamar belajar anak?
Membuat sebuah ruang belajar yang nyaman bagi Si Kecil gampang-gampang susah. Pasalnya, tak seperti ruang belajar atau ruang kerja orang dewasa, ruang belajar anak memerlukan banyak pertimbangan, baik dari luas, material, pemilihan perabot atau furnitur hingga pemilihan warna.
Hindari Sudut Tajam
Luas ruang belajar anak yang ideal adalah sekitar 2,5x2,5 meter per anak. Bila terdapat beberapa anak, apalagi yang masih kecil, maka ruangan yang dibutuhkan biasanya lebih luas. Semata-mata karena ruang belajar yang ideal membutuhkan tempat untuk menggali kreativitas. Sebut saja, prakarya, melukis, atau menata. Untuk anak yang lebih besar, biasanya membutuhkan luasan yang ideal untuk meletakkan meja dan kursi belajar, serta adanya rak-rak penyimpan barang.
Selain ukuran ruang belajar, perhatikan juga faktor keamanan dan kenyamanan. Khusus untuk putra-putri yang masih kecil, Anda harus menghindari furnitur yang memiliki sisi atau sudut yang lancip atau tajam. Hindari juga furnitur yang menggores dan membahayakan gerakan anak. Pasalnya, anak-anak masih sangat aktif dan bisa terantuk pinggiran meja kursi ketika beraktivitas. Apalagi pada anak yang masih agak kecil, aktivitas belajar biasanya diseling dengan aktivitas motorik seperti berlarian.
Foto: Ahmad Fadilah
Pilih Meja & Kursi
Ruang belajar anak membutuhkan furnitur yang sesuai untuk belajar, berupa meja dan kursi belajar. Meja kursi bisa merupakan tempat untuk belajar bersama. Sehingga perlu diperhatikan kemungkinan mengumpulkan beberapa meja dengan kursi melingkar, atau sebuah meja besar dengan beberapa kursi
Untuk meja belajar individual, bisa dipilih seperti meja kerja biasa dengan kursi dan rak penyimpan buku serta peralatan belajar. Jangan lupa menyesuaikan ketinggian meja kursi yang sesuai untuk anak. Meja yang terlalu tinggi akan membuat anak harus naik ke kursi atau mendongak untuk menulis atau membaca.
Hiasi Dinding
Dinding bisa menggunakan wallpaper , wall sticker , atau cukup cat biasa, tergantung selera dan budget . Wallpaper  lebih mahal namun menyajikan lebih banyak motif menarik, apalagi untuk anak-anak. Wallpaper  yang disarankan untuk kamar anak dengan catatan memiliki corak yang sesuai dan terbuat dari bahan yang tidak mudah kotor, misalnya bahan vinyl . Atau, jika anak-anak memang cepat bosan, Anda bisa menggunakan wall sticker . Selain harganya lebih terjangkau, Anda bisa dengan mudah menggantinya sesuai selera anak.
Mendesain dan membuat sendiri furniture custommade seperti dalam contoh kamar anak ini menjadikan kesan yang lebih rapi dan terorganisir (Foto: Ahmad Fadilah)
Zona yang Jelas
Mungkin orangtua sering bertanya, mana yang lebih baik, menggabungkan ruang belajar dengan kamar tidur anak, ataukah terpisah sendiri-sendiri?
Biasanya kamar tidur anak memiliki sebuah meja kursi yang digunakan untuk belajar, namun tak masalah bila dirasa perlu dipisahkan. Sehingga aktivitas tidak bercampur antara belajar dan istirahat atau menonton TV dan bermain game  dan anak bisa lebih fokus belajar. Jika disatukan, maka yang perlu diperhatikan adalah menata agar fungsi kamar sebagai ruang untuk istirahat dan belajar memiliki semacam zona yang jelas. Tandai dengan rak-rak untuk tempat buku yang khusus di sekitar zona belajar. Perhatikan juga warna, mengingat anak berada dalam usia yang sangat aktif, sehingga kemungkinan perlu untuk memiliki ruang dengan warna-warni penunjang kreativitasnya. Apalagi, mata dan pikiran anak sangat tertarik dan mudah beradaptasi dengan warna-warni, terutama yang disukainya.
Foto: Ahmad Fadilah
Warna Terang Lebih Kuat
Warna yang direkomendasikan untuk kamar belajar anak adalah warna-warna terang dan kuat, karena bisa merangsang kreativitas anak. Contohnya, merah, oranye, biru, atau hijau. Warna-warna terang ini bisa digunakan untuk aksen dinding. Artinya, tidak semua dinding dicat dengan warna yang kuat tersebut, misalnya hanya untuk ruang belajar.
Untuk ruang belajar yang membutuhkan konsentrasi tinggi bisa menggunakan warna pastel, seperti biru pastel, orange pastel, krem, dan sebagainya. Secara umum kita bisa menggunakan warna kuat untuk ruang belajar, namun bila bersatu dengan kamar tidur, gunakan warna pastel, terutama untuk dinding yang menghadap tempat tidur.
Hobi yang berbeda, menjadikan pilihan warna untuk anak laki-laki agak berbeda dengan anak perempuan. Anak laki-laki biasanya menyukai warna kuat, seperti merah, hijau, kuning, dan biru. Sedangkan setelah SMP, anak laki-laki cenderung menyukai warna natural, seperti abu-abu atau putih. Untuk aksen aksen warna kuat, aplikasikan pada hiasan kamar tidur.
Untuk kamar anak perempuan yang masih kecil, selain tema boneka dan tema putri dalam dongeng, warna yang digemari adalah pastel seperti pink dan biru muda. Biasanya ketika menginjak SMU, anak mulai ingin mengganti tema. Akali saja dengan wallpaper atau wall sticker yang lebih dewasa.

Pembelajaran Yang Baik Untuk Anak

Artikel: Prinsip-prinsip Pembelajaran Anak

Beberapa prinsip pembelajaran anak berdasarkan cara berfikir anak, khususnya yang terkait dengan hubungan sebab-akibat…
1. Konkret dan dapat dilihat langsung
Anak dapat dilatih untuk membuat hubungan sebab-akibat jika dapat dilihat secara langsung. Misalnya dengan menggunakan neraca atau timbangan, anak dapat melihat dengan percobaan air mengalir dalam pipa, anak dapat melihat kenaikan pipa dan arah aliran air. dalam proses belajar hendaknya anak dapat berinteraksi dengan benda-benda, bermain, dan melakukan eksplorasi agar mereka memperoleh pengalaman langsung.
2. Bersifat pengalaman
Pembelajaran hendaknya menekankan pada proses mengenalkan anak dengan berbagai benda, fenomena alam, dan fenomena sosial. Fenomena tersebut akan mendorong anak tertarik terhadap berbagai persoalan, sehingga ia ingin belajar lebih lanjut. Guru hendaknya tidak memaksa anak untuk dapat berfikir logis dan rasional sebagaimana orang dewasa untuk mengambil kesimpulan dari fenomena tersebut.
3. Seimbang antara kegiatan fisik dan mental
Dalam pembelajaran sains kegiatan anak berinteraksi dengan benda dikenal dengan hans on science. Anak dapat menggunakan kelima indranya untuk melakukan observasi terhadap berbagai benda, gejala benda dan gejala peristiwa. Selanjutnya guru dapat memberikan pertanyaan untuk menstimulasi anak agar dapat berfikir lebih jauh berdasarkan hasil pengindraanya. Proses berfikir tersebut dikenal dengan minds-on. Oleh karena itu sebaiknya guru mendesain kegiatan pembelajaran sedemikian rupa agar kegiatan hands-on dan minds-on dapat seimbang.
4. Berhati-hati dengan pertanyaan “mengapa”
Pada orang dewasa, pertanyaan mengapa biasanya harus dijawab dengan suatu konsep atau hubungan sebab akibat yang masuk akal atau “ilmiah”. Bagi anak usia dini, kemampuan menjawab dengan hubungan sebab-akibat belum berkembang, pertanyaan “mengapa” sering di artikan “untuk apa” sehingga jawabannya bukan hubungan sebab-akibat, melainkan hubungan fungsional.
Pertanyaan “mengapa air sungai mengalir ke laut?” mungkin akan dijawab anak dengan jawaban “agar laut tidak kering”.
5. Sesuai tingkat perkembangan anak
Pembelajaran untuk anak usia dini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik usia maupun dengan kebutuhan individual anak. Pada umumnya, anak normal pada usia yang sama memiliki tingkat perkembangan yang sama. Oleh karena itu, pembelajaran anak usia dini harus disesuaikan baik lingkup maupun tingkat kesulitannya dengan kelompok usia anak.
6. Sesuai kebutuhan individual
Selain disesuaikan dengan kelompok usia anak, pembelajaran anak usia dini perlu memperhatikan kebutuhan individual. Disadari sepenuhnya bahwa anak pada dasarnya unik, ia memiliki karakteristik, bakat, minat sendiri yang berbeda dengan anak yang lain. Oleh karena itu, pembelajaran, selain memperhatikan kelompok usia juga harus memperhatikan kebutuhan individual, seperti bakat, minat, dan tingkat kecerdasan anak.
7. Mengembangkan kecerdasan
Pembelajaran anak usia dini hendaknya tidak menjejali anak dengan hafalan, tetapi mengembangkan kecerdasaanya. Penelitian di bidang neuroscience (ilmu tentang saraf) menemukan bahwakecerdasan sangat dipengaruhi oleh banyaknya sel saraf otak, hubungan antar sel saraf otak, dan keseimbangan kinerja otak kanan dan otak kiri. Pada saat lahir sel otak sudah terbentuk semua yang jumlahnya mencapai 100-200 miliar, dimana setiap sel dapat membuat hubungan dengan 20.000 sel saraf otak lainnya, atau dengan kata lain dapat membentuk kombinasi 100 miliar x 20.000. Oleh karena itu, anak usia (0-8 Tahun) merupakan usia yang sangat kritis bagi pengembangan kecerdasan anak. Sayangnya, banyak guru, orang tua, dan pendidik anak usia dini yang “mengunci mati” sel otak tersebut untuk menjalankan fungsi kapasitasnya yang tak terhingga (unlimited capacity to learn) (Semiawan, 4004). Oleh karena itu guru dan orang tua perlu memahami teknik stimulasi otak yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan anak, bukan sekedar menjejali anak dengan informasi hafalan.
8. Sesuai langgam belajar anak
Tipe kecerdasan dan modalitas belajar yang berbeda menyebabkan anak-anak belajar dengan cara yang berbeda. Selain tipe kecerdasan, cara anak belajar juga dipengaruhi oleh modalitas belajarnya. Bagi anak yang memiliki kecerdasan kinestetik dan memiliki indera peraba yang baik, ia lebih baik belajar dengan cara membongkar pasang, mengamati, dan menyentuh objek yang dipelajari. Sebaliknya bagi anak yang memiliki kemampuan pendengaran baik, ia belajar secara auditif. Sedangkan anak yang memiliki modalitas penglihatan, ia akan belajar secara visual, seperti membaca dan mengamati gambar.
9. Kontekstual dan multikonteks
Pembelajaran anak usia dini harus kontekstual dan menggunakan banyak konteks. Apa yang dipelajari anak adalah persoalan nyata sesuai dengan kondisi dimana siswa berada. Berbagai objek yang ada disekitar siswa, kejadian, dan isu-isu yang menarik dapat diangkat sebagai tema persoalan belajar.
10. Terpadu
Pembelajaran anak usia dini sebaiknya bersifat terpadu atau terintegrasi. Anak tidak belajar mata pelajaran tertentu, seperti IPA, Matematika, Bahasa secara terpisah, tetapi fenomena dan kejadian yang ada disekitarnya. Melalui bermain dengan air anak dapat belajar berhitung (matematika), mengenal sifat-sifat air (IPA), menggambar air mancur (seni), dan fungsi air untuk kehidupan (IPS).
11. Menggunakan esensi bermain
Pembelajaran anak usia dini menggunakan prinsip belajar, bermain, dan bernyanyi. Pembelajaran disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan demokratis, sehingga anak tertarik untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Esensi bermain meliputi perasaan yang menyenangkan, merdeka, bebas memilih, dan merangsang anak terlibat aktif. Jadi prinsip bermain sambil belajar mengandung arti bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus menyenangkan, gembira, aktif dan demokratis.
12. Belajar kecakapan hidup
Pendidikan anak usia dini mengembangkan diri anak secara menyeluruh (the whole child). Berbagai kecakapan dilatihkan agar anak kelak menjadi manusia seutuhnya. Bagian dari diri anak yang dikembangkan meliputi bidang fisik-motorik, intelektual, moral, sosial, emosi, kreativitas, dan bahasa. Tujuannya ialah agar kelak anak berkembang menjadi manusia yang utuh yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia, cerdas dan terampil, mampu bekerja sama dengan orang lain, mampu hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
13. Belajar dari benda konkret
Mengajarkan angka 1, 2, dan 3 akan lebih baik jika berkoresponden dengan benda, misalnya 1 dengan 1 biji, 2 dengan 2 biji dan 3 dengan 3 biji. Perkembangan indranya yang pesat dan tenaganya yang tak pernah habis memungkinkan anak-anak pada tahap ini untuk selalu bergerak, membongkar pasang sesuatu, dan menyelidiki sesuatu.

Sabtu, 12 November 2011

Ada Apa Dengan Anak..???

Anak - Balita - Bayi

Media Massa, Teknologi, dan Perkembangan Mental Anak


Hari-hari terakhir ini, kita hampir tidak dapat dilepaskan dari hingar bingar berita skandal video porno mirip artis yang sudah tersebar bebas di internet. Lepas dari segala kecaman maupun berita yang disorotkan ke artis yang terlibat, kita memang perlu prihatin bahwa tersebarnya rekaman tersebut, sudah terjangkau hingga ke berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Bahkan jauh sebelum kehebohan video ini muncul, kita tentu masih ingat tersebarnya pula rekaman video seks mantan pejabat, mahasiswa, ganti baju artis, dan masih banyak lagi.
Semuanya merupakan aktivitas yang cenderung ditabukan dalam kultur masyarakat kita, terutama bagi anak-anak. Dan tidak dapat dipungkiri, kasus yang melibatkan artis-artis terkenal ini menjadi perhatian public maupun pemerintah yang cukup besar karena mereka adalah figur public, sehingga membuat lebih banyak kalangan yang cenderung ingin tahu, apa yang sedang diberitakan media massa.
Harus kita akui, di jaman yang serba modern ini, penyebaran informasi apapun, baik yang positif maupun negative, relative sulit dihindari, termasuk juga informasi-informasi yang seharusnya diperuntukkan untuk orang dewasa yang sudah siap lahir dan batin menerima informasi tersebut. Apalagi, perkembangan internet dan perangkatnya yang semakin murah dan semakin kita butuhkan untuk aktivitas sehari-hari sehingga memungkinkan akses yang semakin mudah.
Tentu tidak akan efektif bila kita sebagai orang tua, hanya sekedar melarang anak kita dan memarahinya bila kita mendapatinya sedang mengkonsumsi informasi yang tergolong dewasa, baik melalui internet, handphone, televisi ataupun alat teknologi lain, karena hal itu akan memunculkan rasa penasaran yang besar pada anak, dan ujung-ujungnya, akan mudah tergoda untuk mencari tahu dalam bentuk praktek nyata, seperti yang kebanyakan diberitakan selama ini di berbagai media massa.
Oleh sebab itu, kunci utama untuk melindungi buah hati kita dari dampak negative kemajuan teknologi, dengan tetap kita mampu memaksimalkan segi positif dari teknologi tersebut, adalah KOMUNIKASI. Seperti layaknya setiap hubungan apapun itu, termasuk hubungan antar suami-istri, KOMUNIKASI merupakan sarana yang paling efektif untuk saling memberikan masukan, saling memahami, saling memberikan pengertian, dan saling belajar satu sama lain dalam mencapai win-win solution di setiap masalah apapun.
Marah, memaksa, melarang, menghukum, maupun tindakan emosional lainnya, cenderung meningkatkan perasaan tertekan dan keinginan memberontak pada anak, yang ujung-ujungnya, akan menyulitkan orang tua dalam penanaman nilai secara tepat.
Komunikasi antar orang tua-anak yang terjalin dengan baik (artinya, anak merasa nyaman setiap kali berkomunikasi dengan orang tuanya, bukan malah tertekan atau takut), akan jauh lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai dibandingkan factor luar. Hanya pada saat anak tidak merasa nyaman ketika ia di rumah, itulah saatnya factor luar (teman, media massa, dll) memberikan pengaruh yang signifikan.
Lantas, bagaimana caranya ber-KOMUNIKASI yang efektif agar anak mudah memahami pengertian yang dimaksud orang tua?
Di sini, dibutuhkan KESESUAIAN antara inti informasi yang dikomunikasikan orang tua dengan perkembangan mental anak, yang umumnya mengikuti perkembangan usianya.
Tidak dapat dipungkiri, perkembangan intelektual dapat semakin cepat dan semakin dini berkat pengaruh gizi, lingkungan, maupun pola asuh. Namun sebaliknya, perkembangan mental perlu proses sinergi terus menerus antara orang tua-anak-lingkungan hingga anak mulai mampu mengambil tanggung jawab secara mandiri di masa dewasa.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review